Follow me on Academia.edu

Contoh Studi Kasus Proses Berobat Pada Rumah Sakit Kelas Berat

Kriteria Rumah Sakit Kelas Berat

Hingga saat artikel ini diterbitkan, marsonline baru memiliki pengalaman menyelesaikan permasalahan kerumitan untuk rumah sakit kelas menengah, ibarat pertandingan tinju maka marsonline kini mempersiapkan diri menghadapi pertandingan melawan kerumitan yang dialami rumah sakit kelas berat.

Kriteria kelas berat menurut marsonline, dengan cara melihat jumlah kunjungan pasien harian diatas nilai normal yang bisa ditangani oleh sistem informasi, ditambah lagi teknik pelayanan medis yang diluar norma ketentuan standar operasional prosedur yang biasa digunakan oleh sistem informasi.

contoh studi kasus
Kunjungan pasien harian diatas nilai normal, karena selain jumlah yang luar biasa, pendaftaran kunjungan pasien bisa terjadi selain di unit pendaftaran, namun juga bisa terjadi di semua unit pelayanan.

Teknik pelayanan medik diluar norma ketentuan standar operasional prosedur yang biasa digunakan oleh sistem informasi, bisa terjadi di rumah sakit kelas berat.

Uraian kalimat perihal rumah sakit kelas berat diatas, lebih pas dengan mengambil contoh kasus saat pengalaman pribadi berobat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Jakarta. Selain itu ditambah pengalaman saat mengantar ibu berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo dan RSUD Haji di Surabaya.

Ketiga rumah sakit tersebut, setidaknya bisa menjadi tolok ukur contoh kasus kriteria sebagai rumah sakit kelas berat. Dari ketiga rumah sakit tersebut, semuanya telah memiliki pengalaman dalam membangun sistem informasi, ada yang sudah mati suri, dan ada yang masih sedang berlangsung implementasi komputerisasi rumah sakit.

Sekilas MIRSA dan marsonline

Vendor sistem informasi yang sedang berjuang menangani atau sedang berjuang menyelesaikan kerumitan administrasi operasional RSUD Dr. Soetomo Surabaya, diketahui dari PT Buana Varia Komputama dari Jakarta, yang memiliki produk andalan sistem informasi, berupa software rumah sakit yang diberi nama MIRSA.

Kalau melihat website vendor software rumah sakit ini, maka bidang utama bisnisnya sama dengan marsonline, yakni mengambil spesialisasi software rumah sakit, sedangkan bedanya terletak pada jumlah klien yang lumayan banyak dibandingkan klien marsonline, dan luar biasa bahwa klien yang telah menikmati pelayananan software MIRSA, sebagian besar memiliki kriteria rumah sakit kelas berat.

Artinya ibarat pemain tinju maka produk MIRSA adalah software rumah sakit kelas berat, sementara marsonline adalah software rumah sakit kelas menengah.

Dengan membaca testimoni para pejabat rumah sakit kelas berat yang telah dilayani produk software MIRSA, maka bisa dikatakan bahwa produk MIRSA telah memiliki pengalaman meraih keberhasilan dalam menaklukan tingkat kerumitan operasional rumah sakit kelas berat.

Tentu marsonline sangat senang memiliki senior kakak kelas yang telah berhasil mumpuni dalam bidang spesialisasi membantu operasional rumah sakit yang memiliki kriteria sebagai rumah sakit kelas berat.

Dari website software MIRSA (www.bvk.co.id) menyebutkan bahwa RSUD Dr. Soetomo Surabaya telah mulai implementasi software MIRSA sejak tahun 2009 (http://www.bvk.co.id/artikel/berita/168-rsud-dr-soetomo-surabaya-implementasikan-mirsa).

Artinya software MIRSA sudah tujuh tahun membantu operasional RSUD Dr. Soetomo Surabaya, bila dihitung tahun hingga saat artikel ini diterbitkan pada Maret 2016.

Tertera pada website MIRSA bahwa telah terjalin hubungan baik dengan General Electric, untuk keperluan RIS (Radiology Information System) dan PACS (Picture Archiving and Communication System).

Sedangkan marsonline pada Februari 2016, sedang dalam tahap upaya mengembangkan sistem, agar software marsonline bisa terhubung ke peralatan RISPACS pada unit kerja Radiologi.

Pada Agustus 2013, marsonline telah berhasil melakukan pengembangan sistem integrasi koneksitas dengan sistem LIS (Laboratory Information System) pada unit kerja Laboratorium, yang dikembangkan oleh Sysmex.

Kerumitan Operasional Rumah Sakit Kelas Berat

Kembali mari melihat kondisi nyata di lapangan tentang beratnya tantangan permasalahan operasional rumah sakit kelas berat.

Rumah Sakit kelas berat telah dijejali jumlah pasien sangat banyak pada tiap hari kerja, telah berlangsung lama bahkan sebelum BPJS lahir, bahkan ditengarai bahwa kelahiran BPJS diharapkan bisa menjadi solusi permasalahan peningkatan jumlah pasien rumah sakit yang besar tersebut.

Seiring program Pemerintah yang ingin memberikan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada rakyatnya, tidak pelak lagi telah menyadarkan masyarakat berbondong datang berobat ke rumah sakit, dengan jaminan biaya pengobatan tidak terlalu mahal, karena sebagian ditanggung pemerintah melalui program BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Tiap hari kerja Rumah Sakit kelas berat tidak pernah sepi dari kunjungan pasien berobat. Jumlahnya untuk unit kerja Pendaftaran Pasien Rawat Jalan bisa mencapai ribuan, padahal pasien yang datang berobat sudah melewati prosesi rujukan dari Puskesmas Kecamatan.

Karena jumlah pasien rawat jalan sangat besar, maka sebagian besar tidak memungkinkan pasien rawat jalan saat pagi hari melakukan pendaftaran, proses berobatnya bisa selesai hari itu juga. Nah ini bisa dikatakan telah diluar standar operasional prosedur yang biasa digunakan sistem informasi, karena menurut SOP bahwa pasien rawat jalan harus selesai hari itu juga, sedangkan pasien yang berobat berhari-hari bisa dikatakan sebagai pasien rawat inap.

Kenyataan bahwa di rumah sakit kelas berat, pasien rawat jalan bisa menghabiskan waktu lebih dari satu minggu untuk menyelesaikan prosesi berobatnya. Seperti ilustrasi pengalaman pribadi berobat di RSPAD Gatot Subroto di Jakarta, dengan status sebagai pasien rawat jalan.

Studi Kasus Kronologi Pengalaman Pribadi

Hari Jumat, tanggal 13 Nopember 2015 menjelang malam, karena mendadak sakit perut seperti terasa kram perut, dan karena kebetulan posisi sedang dekat dengan lokasi RSPAD Gatot Subroto, maka segera masuk ke ruang IRD (Instalasi Rawat Darurat), karena sebagai pasien umum maka bayar biaya rawat, dan selesai pelayanan boleh pulang.

Hari Sabtu, tanggal 14 Nopember 2015 masih pagi buta, kembali sakit menyerang dan kembali masuk IRD RSPAD Gatot Subroto, namun karena sudah membawa kartu BPJS, pemeriksaan dilakukan baik laborat dan ct scan radiologi, hingga diketahui bahwa penyebab sakit perut dikarenakan ada batu di dalam empedu, dan hal ini harus dilakukan proses bedah operasi, manfaat kedigdayaan kartu BPJS membuat biaya rawat gratis, dan boleh pulang pada tanggal 15 Nopember 2015 pagi, dengan himbauan dari dokter agar berobat jalan ke poliklinik Bedah Digestif, mulai tanggal 16 Nopember 2015.

Hari Senin, tanggal 16 Nopember 2015 - Poliklinik Bedah Digestif.
*   Melakukan pendaftaran pasien rawat jalan dengan tujuan berobat ke poliklinik Bedah Digestif.
*   Petugas pendaftaran rawat jalan, mencari dokumen status file catatan medis pasien, dan membawa berkas kemudian ditumpuk di dekat meja dokter spesialis Poliklinik Bedah Digestif.
*   Suasana antrian poliklinik Bedah RSPAD Gatot Subroto sudah terbilang padat sejak pagi hari, salah satunya adalah tujuan saya berobat yakni poliklinik Bedah Digestif.
*   Menjelang siang hari antrian nomor saya dipanggil untuk masuk poliklinik Bedah Digestif.
*   Setelah dokter melihat membaca catatan medik pada dokumen file status rekam medis, tentu didalamnya tertera tentang catatan medis pada pelayanan Unit Rawat Darurat sebelumnya, maka setelah melakukan pemeriksaan pada bagian perut, dilanjutkan dengan memberikan resep obat penghilang nyeri perut, dan pemberitahuan tentang kemungkinan diambil tindakan medis berupa tindakan bedah operasi.
*   Selain resep dan informasi tindakan medis tersebut, diberikan surat pengantar pemeriksaan darah di unit kerja Laboratorium, dan pengantar pemeriksaan foto rontgen di unit kerja Radiologi.
*   Mengingat ada kemungkinan akan dilakukan proses tindakan medis bedah operasi, diberikan surat rujukan ke poliklinik Penyakit Dalam, poliklinik Paru, poliklinik Jantung, dan poliklinik Anestesi.

Begitulah alur prosesi pelayanan pengobatan yang akan saya jalani, sebelum akhirnya harus kembali ke poliklinik Bedah Digestif, untuk dilakukan penilaian medis terhadap layak tidaknya dilakukan rencana tindakan medis bedah operasi. Hasil penilaian medis dapat diperoleh dengan cara mempelajari hasil pengamatan pemeriksaan dari ke empat poliklinik rujukan.

Kronologi alur prosesi pelayanan pengobatan diatas, merupakan bukti bahwa pasien status rawat jalan tidak harus prosesi pengobatannya selesai pada hari itu.

Artinya pada hari Senin, tanggal 16 Nopember 2015, saya berobat dengan status pasien rawat jalan, hanya memperoleh pelayanan medis di poliklinik Bedah Digestif, dan pelayanan pengambilan resep obat di Apotek Rawat Jalan, artinya status perawatan atau pengobatan penyakit memiliki kategori status perawatan belum selesai, sebagaimana tertera pada surat pengantar dan surat rujukan yang saya terima hari itu.

Hari Selasa, tanggal 17 Nopember 2015 - Laboratorium.
*   Menyerahkan pengantar dokter dengan cara ditaruh paling atas, pada tumpukan antrian kunjungan pasien pada unit kerja Laboratorium, kemudian antri hingga petugas laboratorium memanggil nama pasien berdasarkan urutan tumpukan surat pengantar, dimulai dari lembar paling bawah.
*   Saat melakukan antri ini, petugas Laboratorium melakukan pengecekan lampiran copy dokumen pendukung sesuai data yang tertera pada surat pengantar, jika ada yang tidak lengkap, petugas memanggil dan mengembalikan surat pengantar agar dilengkapi dokumen pendukung, seperti copy kartu BPJS, jika pada surat pengantar tertera sebagai pasien jaminan BPJS.
*   Bagi surat pengantar dengan dokumen pendukung lengkap, secara bergiliran dipanggil sesuai urutan tumpukan antrian. Akhirnya nama saya dipanggil. Masuk ruang untuk dilakukan pengambilan darah sesuai surat pengantar yang menyebutkan agar dilakukan pemeriksaan darah, setelah selesai diberikan lembar pengantar mengambil hasil pemeriksaan laboratorium, karena hasil pemeriksaan laboratorium, baru bisa diambil keesokan hari, mengingat besarnya jumlah kunjungan pemeriksaan laboratorium.

Hari Rabu, tanggal 18 Nopember 2015 - Radiologi.
*   Pada unit kerja Laboratorium, melakukan antri untuk mengambil hasil pemeriksaan laboratorium, dengan cara menempatkan lembar pengantar pada tumpukan antrian yang tersedia untuk mengambil hasil pemeriksaan laboratorium.
*   Pada unit kerja Radiologi, persis seperti alur antri pada unit kerja Laboratorium, bedanya di Laboratorium diambil darah, kalau di Radiologi dilakukan foto rontgen, dan setelah selesai foto rontgen mendapatkan surat pengantar mengambil hasil foto, karena hasil foto rontgen baru bisa diambil keesokan hari, hal ini terjadi juga disebabkan besarnya volume antrian kunjungan pasien.

Hari Kamis, tanggal 19 Nopember 2015.
*   Pada unit kerja Radiologi, melakukan antri mengambil hasil foto rontgen, namun beda dengan unit kerja Laboratorium, saat ambil foto rontgen antrian tidak banyak.
*   Pada poliklinik Penyakit Dalam, untuk melakukan antri pelayanan ternyata tidak bisa dilakukan, karena poliklinik Penyakit Dalam memiliki ketentuan hari jam praktek hanya hari Senin dan Rabu, artinya saya harus menunggu hingga hari Senin.

Hari Senin, tanggal 23 Nopember 2015 - Poliklinik Penyakit Dalam.
*   Sama seperti pada unit kerja Laboratorium, ketentuan antri dilakukan dengan cara menumpuk surat rujukan dokter pengirim, atau surat lain berkaitan dasar dokumen pasien datang berobat ke poliklinik Penyakit Dalam.
*   Dari tumpukan lembar rujukan lengkap (petugas melakukan klarifikasi kelengkapan seperti pada unit kerja Laboratorium), petugas pendaftaran Poliklinik Penyakit Dalam akan menuju ke unit kerja Rekam Medik, untuk mengambil berkas dokumen, dan membawanya untuk kemudian dibagi ke sejumlah ruang praktek dokter spesialis Penyakit Dalam.
*   Setiap hari jam praktek, poliklinik Penyakit Dalam akan dilayani oleh tiga hingga lima dokter spesialis Penyakit, mengingat besarnya volume kunjungan pasien ke poliklinik Penyakit Dalam RSPAD Gatot Subroto.
*   Setelah ada panggilan, masuk ruang dokter dengan menyerahkan hasil pemeriksaan laborat dan radiologi, kemudian mendapatkan pelayanan medis poliklinik Penyakit Dalam, serta memperoleh resep obat dari dokter Penyakit Dalam.
*   Antri obat di Apotek Rawat Jalan, inilah unit kerja tersibuk dan terbanyak menerima antrian pasien, karena semua pasien yang mendaftarkan diri untuk berobat, setelah menerima pelayanan medis dari masing-masing tujuan berobat, maka titik terakhir pelayanan semua pasien, dipastikan menuju ke unit kerja Apotek.
*   Menumpuk resep dokter, dan selanjutnya sabar antri menunggu, hingga ada panggilan petugas.
*   Dapat dibayangkan beban berat petugas Apotek, tiap hari menghadapi kondisi psikologi tekanan beban kerja tinggi.
*   Tentang beban kerja, kalau unit kerja poliklinik hanya melayani jumlah pasien poliklinik, sementara kalau petugas Apotek harus mampu melayani total semua pasien berobat.

Hari Selasa, tanggal 24 Nopember 2015 - Poliklinik Paru.
*   Ketentuan antri sama seperti pada saat antri di poliklinik Penyakit Dalam.
*   Setelah ada panggilan, masuk ruang dokter dengan menyerahkan hasil pemeriksaan laborat dan radiologi, kemudian mendapatkan pelayanan medis poliklinik Paru, serta memperoleh resep obat dari dokter Paru.

Hari Selasa, tanggal 24 Nopember 2015 - Poliklinik Jantung.
*   Karena antrian poliklinik Paru tidak banyak, maka sekaligus mendaftar ke poliklinik Jantung.
*   Ketentuan antri sama seperti pada saat antri di dua poliklinik diatas.
*   Setelah ada panggilan, masuk ruang dokter dengan menyerahkan hasil pemeriksaan laborat dan radiologi, kemudian mendapatkan pelayanan medis poliklinik Jantung, serta memperoleh resep obat dari dokter Jantung.

Hari Rabu, tanggal 25 Nopember 2015 - Poliklinik Anestesi.
*   Ketentuan antri sama seperti pada saat antri poliklinik diatas.
*   Setelah ada panggilan, masuk ruang dokter dan menyerahkan hasil laborat dan hasil foto rontgen.
*   Dokter Anestesi, mempelajari catatan dokter spesialis Penyakit Dalam, dokter spesialis Paru dan dokter spesialis Jantung.
*   Dokter Anestesi memberikan informasi tentang gambaran tindakan medis yang akan dilakukan, berikut dengan bagaimana sebelum, dan sesudah tindakan medis dilakukan.

Hari Jumat, tanggal 30 Nopember 2015 - Poliklinik Bedah Digestif.
*   Ketentuan antri sama seperti pada saat antri poliklinik diatas.
*   Setelah ada panggilan, masuk ruang dokter dan menyerahkan hasil laborat dan hasil foto rontgen.
*   Dokter spesialis Bedah Digestif, mempelajari semua catatan dokter spesialis rujukan.
*   Dokter spesialis Bedah Digestif, memberikan informasi tentang jadwal tindakan medis yang akan dilakukan, dan diminta beberapa hari kedepan menunggu pemberitahuan via telepon.

Hari Senin, tanggal 2 Desember 2015 - Mendapatkan kabar via telepon dari petugas poliklinik Bedah Digestif, agar tanggal 6 Desember 2015 masuk rawat inap.

Hari Minggu, tanggal 6 Desember 2015 - Masuk rawat inap

Hari Senin, tanggal 7 Desember 2015 - Dilakukan tindakan medis pengangkatan empedu (Koleksistomi / Choleksistektomi) dengan teknik pembedahan laparoskopi.

Gambaran Studi Kasus Alur Prosesi Berobat

Melakukan Pendaftaran Rawat Jalan - Mendapatkan pelayanan medis Poliklinik Bedah Digestif - Mendapatkan pengantar pemeriksaan darah ke Laboratorium - Mendapatkan pengantar foto rontgen ke Radiologi - Mendapatkan rujukan antara lain ke Poliklinik Penyakit Dalam - ke Poliklinik Paru - ke Poliklinik Jantung - ke Poliklinik Anestesi - kembali ke Poliklinik Bedah Digestif - Penentuan Kelayakan Tindakan Medis - Menunggu Jadwal Kamar Bedah - Mendapat panggilan telepon dari petugas Poliklinik Bedah Digestif - Menerima pengantar masuk rawat inap - Masuk Rawat Inap sesuai surat pengantar - Menerima pelayanan tindakan medis berupa tindakan bedah operasi - Pemulihan kondisi pasca bedah operasi - Menunggu hingga ada perintah pulang dari dokter bedah - dilanjutkan kontrol rawat jalan ke poliklinik Bedah Digestif, untuk dilakukan evaluasi hasil tindakan medis.

Software Rumah Sakit Mampu Sebagai Alat Bantu Operasional

Dari urutan kronologi alur prosesi pelayanan rawat jalan yang saya alami, kini bagaimana sistem informasi berupa software rumah sakit, dapat menjembatani alur transaksi seperti diatas, menjadi pekerjaan rutin yang mudah dijalankan, praktis tidak ribet, cepat akurat.

Bagaimana software rumah sakit mampu melakukan update database merekam :
*   Semua catatan medis masing-masing Dokter untuk setiap pasien yang dilayani, di setiap unit kerja Poliklinik.
*   Semua catatan biaya yang timbul pada setiap jasa pelayanan medis yang diterima masing-masing pasien dari masing-masing Dokter, di semua unit kerja Poliklinik.
     =   Khusus tentang update jasa pelayanan medis, bisa terjadi pada jasa pelayanan yang sama dapat ditetapkan tarif jasa yang berbeda.
     =   Jasa sama, tarif beda, dikarenakan besaran nilai tarif jasa, bisa jadi dapat dibedakan dengan melihat komponen tarif berikut ini.
          -   Apakah tarif termasuk tarif dari kelompok rawat jalan, rawat inap, atau rawat darurat?.
          -   Apakah tarif termasuk tarif dari kelompok pasien pribadi, pasien jaminan asuransi, pasien jaminan perusahaan atau pasien jaminan program pemerintah?.
          -   Apakah tarif termasuk tarif dari rawat inap kelas VIP, kelas I, kelas II atau kelas III?.
          -   Untuk tarif jasa penunjang, apakah tarif termasuk pelayanan rutin atau pelayanan cito?.
          -   Untuk tarif tindakan medis, apakah tarif memiliki tingkat kesulitan tinggi, menengah, atau cukup dikenakan tarif standar?.
*   Semua catatan pemakaian stok ABHP atau pemakaian Alkes yang diberikan kepada pasien, di semua unit kerja Poliklinik.

Dari update database ketiga komponen catatan diatas, akan banyak menghasilkan informasi sesuai format kebutuhan manajemen rumah sakit.

Semua kondisi diatas, baru sebatas pelayanan rawat jalan, masih ada pelayanan rawat darurat dan rawat inap. Semua kondisi diatas belum menyinggung fasilitas efisiensi unit kerja penunjang, karena pada unit ini kebutuhan koneksitas antara dua sisi sistem akan bertemu.

Pada unit kerja Laboratorium ada hubungan koneksitas HIS (Hospital Information System) dengan LIS (Laboratory Information System), sementara pada unit kerja Radiologi ada hubungan koneksitas HIS dengan RIS (Radiology Information System) dan PACS (Picture Archiving and Communication System).

Keberhasilan implementasi software rumah sakit, amat sangat ditentukan oleh kesiapan komponen pendukung sistem informasi, diantaranya :
*   Kesiapan mutu kinerja perangkat keras (hardware).
*   Kesiapan mutu kinerja perangkat lunak (software).
*   Kesiapan mutu kinerja perangkat jaringan (network) yang menghubungkan semua perangkat hardware dan software, yang dipasang di semua unit kerja rumah sakit.
*   Kesiapan mutu kinerja SDM di semua unit kerja, terutama SDM yang menjalankan sistem informasi rumah sakit.
*   Kesiapan petunjuk kerja berupa SOP - standar prosedur operasional di setiap unit kerja rumah sakit.

Selain kesiapan lima komponen utama, ada satu komponen utama baru yang sangat vital dalam menggiring semua upaya keberhasilan menjadi wujud nyata, komponen utama tersebut adalah komitmen dari seluruh jajaran manajemen dan seluruh staf petugas rumah sakit.

Bagi jajaran manajemen yang belum berhasil mewujudkan kinerja komputerisasi operasional rumah sakit, harus tetap memiliki semangat pantang menyerah untuk mewujudkannya. Bayangan kegagalan proyek komputerisasi bisa di-minimalisir dengan memilih vendor yang telah terbukti memiliki trek record nyata, dan hasil kerja vendor bisa dilihat dirasakan dengan cara melakukan kunjungan kerja.

Tentang biaya, komponen utama penyedot biaya paling besar adalah pengadaan hardware dan networking, sedangkan biaya software original dan software rumah sakit bisa dilakukan dengan menjalankan kerjasama, dan model pembayaran kreatif yang lebih ringan.

Kembali ke - Daftar Isi Blog Software Rumah Sakit

Semoga bermanfaat.

SEO Tools | SEO Company | SEO Services

Forum Diskusi

Forum Diskusi
Alat Bantu Utama Operasional Manajemen Rumah Sakit
marsonline Email News

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan masukan e-mail Anda untuk mendapatkan kiriman artikel terbaru dari middlesoft.blogspot.com

Jangan lupa lakukan konfirmasi melalui link aktivasi yang terkirim ke e-mail Anda

Delivered by FeedBurner